Ramadan Momentum Ekonomi Syariah

Memasuki bulan Ramadan, kehidupan dan aktivitas umat muslim dimaksimalkan untuk meningkatkan ibadah. Hal tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk mendapatkan predikat takwa di hadapan-NYA. Ramadan adalah bulan penuh berkah, keutamaan, dan keistimewaan yang tidak dimiliki di bulan lainnya. Kelebihan tersebut meliputi amalan ibadah dilipat-gandakan, diturunkannya malam lailatul Qadar.

Malam lailatul Qadar yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan di mana bagi orang yang berdoa di malam tersebut maka akan dikabulkan apapun permintaannya. Selain itu, adanya keistimewaan bagi yang puasa untuk masuk di pintu surga lewat pintu khusus (jalur tol) yang bernama ar-Rayyaan. Keistimewaan tersebut merupakan sebagian kecil yang dimiliki dalam bulan suci Ramadan.

Pengertian Ramadan sendiri, secara etimologi berasal dari akar kata “ramadl” yang berarti “membakar”. Artinya, Ramadan adalah momentum umat Islam untuk membakar dosa lebih intensif dibandingkan bulan lain. Usaha dan semangat beribadah pun mesti lebih masif dilakukan salah satunya dalam “membakar” kegiatan ekonomi yang tidak sesuai dengan syariah.

Kegiatan dan usaha ekonomi yang selama ini tidak sesuai dengan syariah dengan masih melakukan kegiatan ekonomi yang mengandung unsur judi (mashir), Gharar (unsur tidak jelas transaksinya), Riba (bunga), Bathil (jual beli menipu), dan Risywah (suap) selama Ramadan sudah saat ditinggalkan dengan perlahan-lahan sehingga setelah bulan Ramadan sudah terbiasa melakukan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan syariah.

Di sinilah, bulan Ramadan menjadi momentum lahirnya semangat dan kesadaran umat Islam untuk melakukan aktivitas ekonomi sesuai ajaran agamanya: menanggalkan riba (bunga), menjauhi gharar, maysir, tadlis, ihtikar, dan lain sebagainya. Sebab, implikasi puasa tidak saja berdimensi ibadah spiritual, tetapi juga mengajarkan akhlak horizontal (mu’amalah), khususnya dalam bidang bisnis.

Sementara itu, dalam bulan Ramadan penerapan aktivitas ekonomi Islam ini diharapkan dapat memperkuat sendi perekonomian umat yang puncaknya akan melahirkan social distributive justice (keadilan distribusi sosial) di mana harta dan penghasilan tidak hanya berputar pada segelintir orang saja namun mengoptimalkan konsep berbagi dengan mendorong umat Islam meningkatkan zakat, infak, shadaqah, dan wakaf di bulan Ramadan. Dengan demikian ekonomi Islam mampu menjadi solusi dalam kehidupan masyarakat.

Momentum Ekonomi Islam

Pada tahun ini Global Muslim Travel Index (GMTI) Indonesia menempati peringkat teratas versi Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index 2019 yang  dipublikasikan pada selasa, (9/4) di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta. Indonesia berhasil mengalahkan negara-negara lain seperti Malaysia, Turki, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Berdasarkan data State of the Global Islamic Economy Report, pada 2021 potensi ekonomi Syariah global mencapai USD3 triliun. Sementara data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan per September 2017, total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk Saham Syariah) mencapai Rp1.075,96 triliun atau USD79,75 miliar (kurs tengah BI 29 September 2017 yakni Rp13.492).

Dalam konteks historis, bulan Ramadan merupakan momentum penting dan monumental dalam kebangkitan dan kejayaan Islam. Telah banyak perubahan besar dalam sejarah dakwah Islam yang terjadi pada bulan ini. Ramadan juga telah mengantarkan Islam tersebar ke semenanjung Afrika dan Eropa. Sementara dalam konteks ibadah, Ramadan adalah bulan semangat dan motivasi untuk memperbaiki diri dengan sederet ketaatan.

Dengan semangat Ramadan patut dijadikan sebagai momentum Kebangkitan Ekonomi Islam bagi bangsa dan negara agar potensi dan booming ekonomi Syariah dapat terwujud di Indonesia sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya ekonomi Islam dapat menjadi sumber alternatif untuk pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Safri Haliding
Wakil Ketua Umum (MES) DKI Jakarta
Alumni International Islamic University of Malaysia (IIUM)

 

Sumber: ekonomisyariah.org