Menggantungkan Harapan pada Erick dan Sri Mulyani

Foto: wartaekonomi.co.id

Terpilihnya Menteri BUMN Erick Thohir menjadi Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) 2021-2024 membawa harapan baru bagi pengembangan ekonomi syariah. Setidaknya, ini jika melihat keseriusannya dengan membentuk Dewan Penggerak, Dewan Penyantun dan dipilihnya nama-nama besar di pemerintah dan swasta untuk membantunya.

Di Dewan Pembina,  Wapres Ma’ruf Amien akan dibantu Ketua DPR Puan Maharani,  Ketua MPR Bambang Soesatyo dan Ketua MUI KH Miftahul Akhyar.  Dewan Penggerak diketuai Menkopolhukam Mahfud MD dan dibantu lima. Ada Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Menperin Agus Gumiwang, Menlu Retno Marsudi, Menpar Sandiaga Uno, Mendes, PDT dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, dan Menag Yaqut Cholil Qoumas.

Yang menarik, Erick mengajak bos Indika Energi M Arsyad Rasyid sebagai Ketua Dewan Penyantun. Arsyad akan didampingi Ketua Kadin Roeslan P Roeslani dan Komisaris ABM Investama Rachmat Mulyana. Juga ada Martin Hartono–putra taipan pemilik Djarum Budi Hartono–,  Arini Subianto dan Farhat Brachma.

Di Dewan Pengurus Harian,  Erick juga dibantu sejumlah menteri, yaitu Menkop Teten Masduki, Mendag Muhamad Lutfi, dan Kepala BKPM Bahlil Lahadlia. Juga Dirut Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi.

Melihat nama-nama besar itu, tampaknya Erick akan membawa ekonomi syariah di Indonesia ini ke level yang semestinya. Menjadi pusat ekonomi syariah dunia tahun 2024 yang sudah dicanangkan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).

Saat memilihnya sebagai Ketua MES 23 Februari lalu, formatur memang berharap besar terhadap Erick untuk membuat perubahan. Yang utama adalah focus pengembangan ekonomi syariah yang tak lagi keuangan syariah. Namun sector riil. “Keuangan syariah boleh kita katakan sudah berhasil. Sekarang keuangan syariah sudah tak asing lagi bagi masyarakat,’’ kata Ketua Formatur, KH Ma’ruf Amien, yang sejak awal ikut membidangi kelahiran MES tahun 2001.

Selama ini, masyarakat memang banyak yang mengidentikkan ekonomi syariah pada keuangan syariah. Padahal, mengacu pada Global Islamic Economy, ada lima sector lain selain keuangan syariah. Ada halal food, halal fashion, halal cosmetics and pharmacy, halal tourism, dan halal media and recreation. Lima sector yang pasarnya sangat besar ini belum menjadi perhatian.

Saat memberi sambutan usai terpilih menjadi Ketua MES 23 Februari lalu, Erick pun langsung mengemukakan  program besarnya dalam tiga tahun masa kepemimpinannya nanti.

Yang utama adalah pengembangan pasar  industri halal di dalam dan  luar negeri. Pasar halal industry yang mencakup lima sector ini sangat besar. Tahun 2023, diperkirakan mencapai USD 3.107 miliar (Global Islamic Economy Report, 2017). Ini setara dengan tiga tahun PDB Indonesia, yang tahun 2020 baru USD 1.100 milir. Pasar makanan halal saja diperkirakan mencapai USD 1.863 miliar per tahun. Tahun 2020, Indonesia masuk 10 besar pada seluruh kategori dan menempatkan  Indonesia di peringkat keempat ekonomi syariah global (Global Islamic Indicator Report).

Program kedua adalah mengembangkan industri keuangan syariah. Kinerja yang cukup baik, ditambah dengan tata kelola dan regulasi yang kian baik menjadikan posisi Indonesia naik signifikan pada berbagai pemeringkatan global. Global Islamic Finance Report 2019 telah menempatkan Indonesia di peringkat pertama Islamic Finance Country Index (IFCI). The State of Global Islamic Indicator Report 2020/2021 menempatkan keuangan syariah Indonesia di posisi keenam.

Untuk ini, langkah Erick sebagai Menteri BUMN adalah membentuk bank syariah beraset besar. Caranya,   menggabungkan BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BRI Syariah  menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Dengan asset sekitar Rp 240 triliun dan modal inti Rp 22 triliun, BSI bisa menjadi motor perbankan syariah yang efisien.

Program ketiga Erick adalah  investasi bersahabat yang melibatkan pengusaha daerah. Keempat adalah pengembangan ekonomi syariah di pedesaan secara berkelanjutan. Di sinilah mungkin Erick merasa perlu menggandeng Menteri Desa dan Pembangunan Daerah, Menteri Koperasi, dan Menperin.

Melihat posisinya sebagai Men-BUMN, langkah Erick menggandeng berbagai pihak ini seharusnya menjadi efektif menggerakkan ekonomi syariah. Sebagai dirigent, sekarang tinggal bagaiman Erick mampu mengkoordinasi nama-nama besar itu untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi syariah. Sebab, para birokrat dalam kepengurusan Erick ini bisa mengambil keputusan-keputusan stratejik yang selama ini belum dilakukan.

Apalagi, Menkeu Sri Mulyani Indrawati sekarang adalah Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI). Jika Sri Mulyani memiliki komitmen yang sama dengan Erick, harapan Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia tahun 2024 bukan sekedar mimpi. Sebagai Menkeu, Sri Mulyani bisa berbuat banyak untuk mendukung langkah pengembangan ekonomi syariah. Utamanya dengan berbagai inovasi keuangan seperti penerbitan sukuk, fasilitasi pembiayaan usaha mikro-kecil, dan yang lebih penting, kebijakan perpajakan untuk mendorong zakat.

Komitmen inilah yang selama ini kurang dimiliki oleh para birokrat yang sebenarnya merupakan stakeholder utama ekonomi syariah.

Komitmen yang besar juga diharapkan dari Menag Yaqut Cholil Qoumas. Selama ini, Kementerian Agama RI yang seharusnya menjadi garda depan bagi pengembangan  keuangan syariah di Indonesia justru terlihat enggan melibatkan diri. Belum ada keberpihakan dari Kemenag terhadap industri keuangan syariah dengan menempatkan dananya hanya di perbankan syariah, kecuali penempatan dana haji.

Jika Kemenag memiliki komitmen yang kuat menegakkan syariah, maka dengan mudah mereka bisa mengharuskan penggunaan perbankan syariah bagi ratusan atau ribuan kantor Kemenag di daerah, ratusan ribu sekolah atau madrasah dan universitas di bawah Kemenag, serta ribuan pesantren di seluruh Indonesia.

Jika Kemenag memiliki komitmen itu, maka bukan saja aset  industri keuangan syariah  akan membesar, namun  juga  membawa dampak berantai kepada seluruh pegawai  di bawah Kemenag dan masyarakat umum untuk menggunakan pelayanan keuangan syariah.   Ini bukan saja baik bagi industri keuangan syariah, namun juga bagi masyarakat muslim  sendiri, karena dengan demikian bisa menjalankan syariah  dalam bidang ekonomi dengan baik.

Semoga Erick, Sri Mulyani, Puan Maharani, dan nama-nama besar dalam organisasi pengembangan ekonomi syariah ini benar-benar bisa membawa Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia tahun 2024. Tentunya, itu bisa terwujud jika mereka memiliki komitmen yang tinggi di organisasi social ini. Baik dalama kapasitasnya sebagai pejabat pemerintahan maupun sebagai pribadi.   Wallahu a’lam.

Oleh Imron Mawardi( Ketua Umum PW MES Jawa Timur)

Artikel ini tayang pertama kali di Harian DI’s way 03/02/2021, dengan judul “Menggantungkan Harapan pada Erick dan Sri Mulyani” Direpublikasi di sini dengan seizin Penulis untuk tujuan pendidikan

Sumber: Mes