Jakarta – Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Pasalnya pada Kamis (17/10) Indonesia menerima posisi pertama dalam Global Islamic Finance Report (GIFR) 2019 yang diumumkan oleh Directoral General of Cambridge-IIF, Humayon Dar dalam acara peluncuran GIFR 2019 yang diterima oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro yang berlokasi di Gedung Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.

Penempatan Indonesia sebagai peringkat pertama GIFR 2019 makin mengukuhkan peran nyata Indonesia di Industri perbankan dan keuangan Syariah di dunia. Bambang Brodjonegoro mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang berperan sehingga Indonesia akhirnya menjadi negara paling berpengaruh dalam keuangan dan ekonomi Syariah di dunia. “Saya ucapkan terima kasih atas kerja keras dari semua pihak khususnya direktur eksekutif KNKS beserta jajarannya” ungkapnya.

Menteri Pembangunan Perencanaan Nasional, Bambang Brodjonegoo memaparkan bahwa perkembangan industri keuangan Syariah tidak lepas dari peran serta institusi pendidikan dalam menyediakan dan meningkatkan kualitas SDM keuangan Syariah. “dengan penghargaan ini, saya berharap dapat semakin mendorong motivasi seluruh pemangku kepentingan ekonomi Syariah di Indonesia untuk menjawab peluang dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangan ekonomi Syariah Indonesia. Khususnya perbankan syariah yang kita harapkan menjadi ujung tombak dari keuangan syariah itu sendiri. Sehingga dapat terwujudnya visi Indonesia menjadi Indonesia yang mandiri, madani, makmur dengan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi Syariah terkemuka di dunia” ungkap Bambang.

GIFR 2019 sendiri, merupakan laporan tahunan perbankan dan keuangan Syariah yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2010 dan telah diakui sebagai sumber intelijen pasar terotentik untuk industri keuangan Syariah global. GIFR 2019 ini dipublikasikan oleh Cambridge Institute of Islamic Finance (Cambridge-IIF) dan diproduksi oleh Cambridge IFA, sebuah think thank global untuk industri perbankan dan keuangan yang berbasis di Inggris.

Humayon Dar dalam pidatonya mengungkapkan faktor yang mendorong melesatnya posisi Indonesia ke peringkat teratas diantaranya perkembangan regulasi yang diikuti oleh peningkatan ekosistem industri perbankan dan keuangan syariah, dukungan politik yang kuat dari pemerintah dan juga potensi yang besar yang ditawarkan ekonomi syariah di Indonesia. “Indonesia juga menciptakan kerangka kerja peraturan terkait. Bahkan pengenalan sukuk wakaf dan pelepasan inti wakaf oleh pemerintah telah membuka potensi dan peluang yang lebih besar dalam menjembatani kesenjangan pembiayaan unuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan. Adanya dukungan pemeritah dalam hal ini KNKS, BPKH, peran OJK dan BI dan stake holders lainnya menjadikan salah satu alasan Indonesia nomor satu dalam Islamic inance tahun ini” pungkasnya.

Indonesia di posisi pertama Global Islamic Finance Report 2019 berhasil mengalahkan 48 Negara lainnya dengan beberapa faktor pertimbangan diantaranya, banyaknya jumlah Bank Syariah, Unit usaha syariah, BPRS dan Institusi keuangan non bank serta mempertimbangkan efektifitas dari DSN MUI sebagai pengawas Syariah di Indonesia.

Direktur Eksekutif KNKS, Ventje Rahardjo Soedigno, menyampaikan GIFR Award 2019 merupakan pengakuan atas usaha Bersama semua pihak yang terlibat. “tentunya pencapaian ini tidak terlepas dari komitmen pemerintah dan sinergi yang baik dari semua pihak pemerintah, pelaku usaha, akademisi dan masyarakat dalam mewujudkan Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah (MAKSI) dan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) dalam upaya meningkatkan peran ekonomi dan keuangan Syariah dalam rencana strategis pembangunan ekonomi nasional” ucap Ventje.

Lebih lanjut Ventje menjelaskan KNKS sedang menyiapkan turunan dari Masterplan Ekonomi Keuangan Syariah Indonesia (MEKSI) untuk membuat rencana implementasi. ” rencana implementasi tersebut insyaAllah bulan desember ini akan di luncurkan” pungkasnya.

Sumber : MES