Hukum Fiqh pada Penerapan Zakat Saham

Ramadan adalah bulan penuh berkah, berlomba-lomba dalam kebaikan dinilai menjadi ibadah dan memberikan pahala berlipat ganda. Ibadah baik yang berupa hubungan sesama manusia maupun Allah swt. Terutama pada ibadah yang faedahnya merupakan cerminan ketakwaan seorang hamba seperti zakat dan saat ini sedang dikembangkan dalam bentuk zakat saham. Deputy Director Publikasi dan Jaringan Pusat Kajian Strategis Baznas, Muhammad Hasbi Zaenal menjelaskan, saat ini Baznas sudah bisa menerima zakat dalam bentuk saham. Di Indonesia mungkin pertama kali di dunia ada zakat link to saham.

Dirinya menambahkan, wacana mengenai zakat saham memang cukup menghebohkan dalam literasi keuangan, dan menjadi catatan tersendiri bagi MUI. “Iya, jadi ini masih dipertimbangkan untuk bagaimana akuntansinya nanti. Makanya isu ini juga sudah kita bilang ke dewan fatwa MUI untuk diminta catatannya, tapi secara fikih tidak ada yang salah.” Imbuh lulusan Al-Azhar Cairo jurusan ekonomi syariah tersebut.

Hasbi mencontohkan, misalnya ketika berzakat dengan padi, maka pembayaranya menggunakan padi. Jika berzakat zakat emas maka menggunakan emas, sedangkan zakat saham, membayarnya memakai zakat saham.

“Secara hukum fikih sebetulnya tidak ada yang salah, atau misalnya kita bisa menggunakan dua sumber hukum lain. Penggunaan sumber lain  itu bukan hanya Alquran, hadis, ijma. Melainkan ada sumber lain, misal ada sumber istishab, mashalihul mursala, syar’u man qablana, dan sebagainya,” ungkap Hasbi.

Dirinya menuturkan bagaimana contoh zakat saham, meskipun di Indonesia masih belum banyak peminatnya. Misalnya ada saham A 10 juta, saham B, 20 juta, saham C, 30 juta, saham D 40 juta, dan saham E, 30 juta. Kemudian saham A, D, dan E yang sudah haul dikalikan dengan 2.5 juta, tetapi saham tersebut tergolong saham yang digunakan untuk jual beli (trading), bukan saham investasi.

“Memang terdapat perbedaan, kalau dia sahamnya betul-betul investasi, artinya tidak jual beli (trading) sahamnya. Maka zakatnya dari keuntungan atau penghasilannya, berapa dari devidennya, tapi kalau sahamnya menjadi objek trading itu harus dihitung seperti ini, atau secara global,” ungkapnya.

Ketika ditanyakan bagaimana tanggapan DSN MUI, Hasbi yang juga pengajar dari Tazkia University mengatakan boleh. Tetapi pihak MUI akan membahas secara khusus. “Kemarin waktu saya konsultasi dengan MUI, beliau mengatakan boleh, bagus. Tapi akan dibahas secara khusus terkait fatwa zakat dalam bentuk saham dan pengelolaanya, tapi kalau secara fikih ini clear, tidak ada melarang,” ujarnya. “Kecuali dari teman-teman nanti ada yang menemukan satu dalil tertentu yang tidak memperbolehkan zakat saham. Nah, itu nanti saya bisa review dan konsultasikan dengan MUI,” tutupnya.

 

Sumber: sharianews.com