Foto : Masyarakat Ekonomi Syariah

Jakarta – Kamis, (5/9) Memasuki revolusi industri 4.0, fintech menjadi fenomena baru di Indonesia beberapa tahun belakangan. Pesatnya perkembangan fintech ditunjukan dari jumlah fintech yang saat ini ada mencapai 128 perusahaan fintech, namun hanya sekitar 48 fintech yang terdaftar resmi di OJK. Melihat fenomena tersebut ASBISINDO bekerja sama dengan LSP Keuangan Syariah mengadakan Refreshman Program dengan tema Sharia Banking In The Fintech World, Challenges and Opportunities yang diselenggarakan di Wisma Mandiri 1 lt. 11 Jl. MH Thamrin no. 5, Jakarta

Forum diskusi yang dimulai sedari pagi hingga sore hari diikuti oleh sekitar 100 lebih undangan yang terdiri dari perwakilan perbankan. Sebagai informasi fintech sendiri merupakan teknologi keuangan yang kreatif dan inovatif untuk merancang dan memberikan produk dan layanan keuangan secara efisien. CEO Investree, Adrian Gunadi mengatakan dalam sesi diskusi, teknologi ini perlu dipertimbangkan sebagai katalisator ekonomi syariah, terutama dalam keuangn syariah “fintech dapat dilihat sebagai peluang strategi bagi perbankan dimana channel-channel yg dipunyai fintech bisa menjadi peluang inovasi bagi industri perbankan syariah berbasis fintech. Seperti mendorong optimalisasi pelayanan informasi untuk disampaikan kepada nasabah” ungkapnya.

Menurut Adrian, keunggulan yang dimiliki fintech seperti infrastruktur, kecanggihan teknologi dapat dipadukan dengan kepentingan dari perbankan seperti pelayanan nasabah dan kebutuhan informasi, hal ini bisa menjadi peluang sinergi kedua institusi. Pihaknya menjelaskan bahwa peluang sinergi perbankan dan fintech ini bisa menjawab ancaman perusahaan teknologi besar yang kini mulai banyak merambah sebagai start up financing “fintech dapat membantu perkembangan bank tersebut, merubah bank menjadi entitas bisnis yang digital, memfasilitasi kebutuhan UMKM yang belum memiliki akses pendanaan di bawah 2 (dua) Miliyar, segmen yang belum tersentuh oleh bank ini yg menjadi semangat kami” ungkap Adrian.

Anggota Badan Pelaksana Harian DSN Bidang IKNB Syariah, Aminudin Yakub mengatakan yang membedakan fintech syariah dengan konvensional adanya Dewan Pengawas Syariah. “nantinya DPS ini lah yang akan menentukan skema akad dalam pembiayaan tersebut”. Mengacu pada undang-undang fintech syariah wajib memiliki Dewan Pengawas Syariah yang meliputi pengawasan produk, sistem dan fasilitas yang sesuai syariah. CEO Fintech Investree, Adrian menambahkan pada fintech syariah, terdapat filter bagi peminjan untuk terhindar dari model pembiayaan yang tidak sesuai dengan syariah.

Banyaknya fintech yang belum berizin membuat masyarakat harus lebih jeli dalam melakukan transaksi. Hal ini yang membuat OJK mengharuskan fintech yang ingin bekerjasama dengan perbankan untuk melalui proses izin dan terdaftar di OJK hal ini untuk menjaga kemananan bagi nasabah maupun perbankan syariah.

Ketua Umum LSP Keuangan Syariah Ani Murdiati berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dengan tema-tema yang diperlukan oleh industri. Lebih lanjut Ani mengatakan “dengan adanya kolaborasi antara perbankan syariah dan fintech seharusnya ada peluang untuk LSP Keuangan Syariah untuk membuat satu skema baru untuk bisa mensertifikasi pelaku fintech syariah” ungkapnya.

Direktur Eksekutif ASBISINDO, Herbudhi S. Tomo mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kewajiban dan kepedulian asosisasi kepada para pesertanya “fintech itu kan suatu keniscayaan yang harus diterima, tanpa bisa menerima kita akan digilas teknologi, setiap teknologi baru pasti ada resikonya, ini lah salah satu cara, wadah untuk bisa memitigasi resiko dan peluang dari fintech, melakukan yang sudah sempurna untuk diterapkan di perbankan syariah” Pungkas Tomo.

Sumber : MES