Jakarta – Platform pembelajaran dari Masyarakat Ekonomi Syariah kembali menggelar seminar secara virtual melalui program Elsya MES goes to Campus pada Selasa (23/6). Webinar seri ke empat ini mengangkat tema “Peran Strategis SDM Ekonomi Syariah untuk Akselerasi SIstem Ekonomi Syariah di Era New Normal.” Program ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal youtube E-learning ekonomi syariah Elsya MES.

Tampak hadir dalam webinar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yaitu Ketua I Pengurus Pusat MES, Ahmad Soekro Tratmono, Rektor UIN, Amani Lubis, pengurus Pusat MES, Euis Amalia, Praktisi Keuangan Syariah, Putu Rahwidiyasa dan Kaprodi Perbankan Syariah, Cut Erika Ananda.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua I Pengurus Pusat MES, Ahmad Soekro Tratmono. Dalam sambutannya menjelaskan bahwa MES bersepakat untuk memberikan kontribusi baru dalam era New Normal.

“MES dalam negeri dan luar negeri menyepakati untuk memberikan peran baru di dalam new normal. MES akan mengambil peran dalam membangun tatanan new normal dan kita harapkan bersama-sama dengan pemangku kepentingan untuk menyusun protokol era new normal di berbagai bidang syariah.”

Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Amani Lubis juga mengungkapkan rasa syukur dan harapan atas terselenggaranya webinar edukasi program Elsya di FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Alhamdulillah saya senang acara ini dilakukan di UIN Jakarta, kami memang memiliki banyak program studi yang terkait dengan ekonomi syariah dari strata I, II dan III. Ekonomi syariah di Indonesia menjadi andalan, ingin sekali dunia Islam ini berkembang sebagaimana ekonomi konvensional yang biasa diterapkan dalam dunia. Namun dalan konteks ini adalah ekonomi syariah.”

Sementara itu, dalam pembahasan webinar, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Euis Amalia menjelaskan kondisi market share industri keuangan syariah di Indonesia.

“Target Indonesia sebagai pusat keuangan dunia tapi fakta menunjukkan market share saat ini baru 8,9% artinya masih banyak penduduk Indonesia yang belum menggunakan jasa perbankan dan keuangan syariah”jelasnya

Lebih lanjut, Euis juga mengatakan bahwa ditemukan adanya permasalah mendasar mengenai sautu tantangan di lembaga ekonomi dan keuangan syariah.

“Kemudian yang menjadi masalah adalah indeks literasi sampai 2019 baru 8,93% sedangkan indeks inklusi keuangan syariah per 2019 adalah 9,1%  yang artinya masih banyak masyarakat dan wilayah yang belum mengakses lembaga keungan syariah.”pungkas Euis

Sedangkan menurut praktisi perbankan syariah, Putu Rahwidiyasa menjelaskan strategi persiapan dari beberapa perbankan dalam menangkap kondisi era new normal.

“Perlu ada acara yang kreatif olen insan perbankan syariah untuk mendekati nasabah dengan tujuan meningkatakan kompetensi landscape baru, misalnya dengan menyelenggarakan webinar di kondisi era new normal. Adapun beberap tools yang bisa dilakukana untuk SDM ke depan adalah pengaplikasian kemampuan membangun design thinking digitalisasi dan bisnis model yang mumpuni.”pungkasnya