Ekonomi Kreatif, Masjid dan Wisata Religi

Foto: timesindonesia.co.id

Jakarta – Laman idibaru.id (1/10/2020) merilis 229 juta orang Indonesia menganut agama Islam (87,2%) dari total penduduk Indonesia yang diproyeksikan 271.066.000 jiwa (kompas.com (8/1/2020). Data dari Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Zudan arif Fakhrulloh jumpah penduduk Indonesia per-12/8/2020 naik menjadi 268.583.016 jiwa. Sementara itu, angka kemiskinan di Indonesia menurut versi antaranews.com mengutip Badan Pusat Statistik (BPS) periode September 2019-Maret 2020 mencapai 9,78% atau sebesar 26,42 juta jiwa.

Setelah pandemi covid-19 diperkirakan naik menjadi 10,34% (26,85 juta). Jumlah masjid di Indonesia menurut Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla, ada 800.000, terbanyak di dunia. Setiap 220 orang di suatu kampung ada masjid/mushalla (KUII, 27/2/2020). Kalau kita menghitung berapa angka kemiskinan dari warga Muslim, dengan menggunakan angka nisbah 87,2%x 26,85 juta, maka ketemunya sebanyak 23,41 juta adalah warga Muslim. Tentu ini menjadi beban berat para pengurus Masjid di seantero tanah air, untuk berinisiatif dan berkreasi, bagaimana upaya cerdas mengentaskan angka kemiskinan atau setidaknya menguranginya secara bertahap namun pasti.

Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mencapai 64 juta. Angka tersebut mencapai 99,9 persen dari keseluruhan usaha yang beroperasi di Indonesia (4/9/2020). “Sekitar 30 persen yang usahanya terganggu. Yang terganggu tapi menciptakan inovasi-inovasi kreatif sekitar 50-70 persen, meskipun mereka terkena dampak” kata Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Rully Indrawan (Liputan6.com, Jumat (4/9/2020).

Laman kemenparekraf.go.id (30/5/2020) merilis, bahwa visi kemenparekraf adalah “menjadikan Indonesia Negara Tujuan Pariwisata Dunia”. Ada lima misi, 1. Mengembangkan destinasi parisiwata kelas dunia; 2. Melakukan pemasaran dengan berorientasi kepada wisatawan; 3. Mengembangkan lingkungan dan kapasitas industri pariwisata yang berdaya saing tinggi; 4. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan pariwisata nasional; dan 5. Meningkatkan profesionalisme birokrasi kementerian pariwisata melalui reformasi birokrasi. Kecuali misi yang kelima, maka empat misi kemenparekraf, membutuhkan keikutsertaan subyek dan obyek serta destinasi wisata untuk mewujudkan bersama, agar supaya pariwisata berkembang dengan baik, termasuk di dalamnya destinasi wisata religi.

Hari ini, 17/2/2021, Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) sebagai masjid kebanggaan dan “Mutiara” Jawa Tengah, menggelar webinar nasional, dengan mengusung tema “Masjid sebagai Basis Pemberdayaan Ekonomi Umat”. Selain itu, juga digelar “Digital Muslim Festival” yang sudah dilaunching Ahad, 14/2/2021.   Saya mendapat kehormatan, untuk memandu sesi webinar tersebut sebagai moderator. Kebetulan, saya mendapat amanat dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat (2021-2024) yang dikomandani Bang Erick Thohir dan Bang Iggi Achsien, sebagai koordinator wilayah Indonesia Tengah.

Bertindak sebagai narasumber adalah Ketua DMI Pak Muhammad Jusuf Kalla (JK), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bang Sandiaga Shalahuddin Uno, Ketua Baznas Prof. Dr. H. Noor Achmad, MA., dan kepala perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah dan DIY, Pak Pribadi Santoso.  Gubernur Jawa Tengah yang diwakili Gus Taj Yasin Maemoen, memberikan pidato kunci, sekaligus diharapkan dapat membuat kebijakan pengembangan wisata dan pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid di Jawa Tengah.

Pertanian Hydroponik-Destinasi Wisata Religi Masih banyak problem ekonomi yang dihadapi umat Islam Indonesia. Masjid yang selain menjadi pusat ibadah, masjid memang harus “dimakmurkan dan dapat memakmurkan jamaahnya”. Tentu, ini harus dimaknai bagaimana masjid mampu memberi keterampilan pada jamaahnya, agar dapat berdagang sesuai dengan minat, bakat, dan skill masing-masing. Masjid melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) atau Organisasi Pengelola Zakat (OPZ)-nya, bisa mendistribusikan zakat malnya, memfasilitasi zakat produktifnya, menyiapkan tenaga terampil yang dipekerjakan untuk mendampingi para mustahiq berskill, dan dikelola dengan basis komunitas masjid.

Bagi jamaah yang secara individual sudah tidak mungkin bekerja secara sendiri, MAJT misalnya, dan juga masjid-masjid di seluruh Indonesia yang memiliki lahan luas, dapat menggerakkan mereka dan memanfaatkan lahan wakaf yang sangat luas itu dengan pertanian organic-hydroponik.

Tentu, awalnya membutuhkan modal cukup besar untuk membuat hydroponic-greenhouse. Daripada tanah wakaf yang sudah bertahun-tahun tidak berproduksi, akan sangat bermanfaat jika UPZ dan Dewan Pengelola dapat memulainya. Sudah banyak dipraktikkan di berbagai masjid di Indonesia, bahkan sudah ada yang panen sayur, lele, ikan nila, dan lain sebagainya.

Karena itu, ungkapan keprihatinan mendalam keluarga besar MAJT ini, terhadap kondisi riil sebagian besar umat Islam, perlu ahli atau setidaknya konsultan dan eksekutor yang berani melangkah. Karena itu, webinar ini yang meskipun durasi waktunya sangat pendek, diharapkan akan dapat membuka “nyali” dan “keberanian” untuk memulainya. Kata bijak mengatakan “salah karena memulai sebuah ikhtiar besar, itu lebih baik dari pada tidak pernah salah, karena tidak pernah berbuat apapun”.  Selain itu, MAJT memiliki modal sudah menjadi destinasi wisata religi bagi peziarah walisongo dari seantero Indonesia bahkan, sangat-sangat sering mendapat kunjungan pejabat tinggi dari negara-negara asing dan juga touris mancanegara.

Sumber: smol.id